Memahami Fotografi Dari Sudut Pandang Susan Sontag
“Photography is not practiced by most people as an art. It’s mainly a social rite, a defense against anxiety, and a tool of power.”
***
***
"Humankind lingers unregenerately in Plato’s cave, still reveling, its age-old habit, in mere images of the truth".
Menurut Sontag, kamera adalah alat yang lebih “mengerikan”. Sontag menganalogikan kamera dengan pistol. Bedanya, pistol membunuh, sedang kamera lakukan hal yang lebih “jahat” lagi. Kamera dewasanya ialah alat seorang pemangsa; bersifat “mengubah” subjek yang direkam menjadi sebuah objek yang bisa dimiliki. Seperti halnya pemburu yang berkeliaran di semak belukar menunggu mangsa dengan senapan Winchester-nya, fotografer adalah seorang pemangsa yang berkeliaran dengan Hasselblad-nya siap “menerkam” momen-momen yang dirasanya tepat dan menggiurkan. Selain alat pemangsa, Sontag juga menjelaskan kamera ialah alat yang paling otoriter.
***
Fotografi yang kita ambil hanya menyoalkan bagian-bagian yang kita inginkan, kepingan realita terisolasi yang terpilih untuk disimpan lalu dikenang. Seperti yang ditulis Sontag, Selain hanya untuk menyimpan, Sontag berhasil memprediksikan sekitar 40 tahun yang lalu, keadaan masyarakat kita yang kini sangat tergantung pada foto sebagai sebuah sertifikat kehadiran mereka pada suatu lokasi atau seatu pengalaman. Dengan ramainya media sosial dan meningkatnya keinginan masyarakat untuk berpergian, sebuah kamera kini hanyalah sebuah bungkusan untuk mengumpulkan foto dan terus mengumpulkan. Lalu, berkompetisi dengan orang lain, melihat siapa yang lebih banyak memiliki foto. Karena siapa yang lebih banyak memiliki foto, mereka dianggap lebih banyak memiliki pengalaman atau “hadir” pada suatu momen. Manusia pada dasarnya memang rakus dan kompetitif.
Fotografi adalah revolusi pada cara pandang manusia (the way of seeing/vision). Fotografi bukan hanya menyoal penciptaan citra yang begitu akurat, rinci dan obyektif dalam mengapropriasi realitas. Darinya kamera dan proses cetak kimiawi film negatif, yang begitu cepat, pula fotografi memberikan dampak yang lebih melebar. Tiap citraan fotografi bisa digandakan, batas tak dikenal olehnya, terlebih meriahnya pengembangan reproduksi mekanik pada kamera, kini fotografi pula menjadi model ''seni'' yang dapat menjangkau berbagai lapisan masyarakat secara massal, lewat berbagai lembaga, seperti media massa dan penerbitan buku. Fotografi menjadi simbol dari semangat budaya modern: demokratisasi dunia citraan (sebelum diciptakan fotografi, seni lukis hanya bisa dimiliki kelas tertentu dalam hirarki masyarakat).
Dewasanya, fotografi bagi manusia modern hari ini adalah sumber pengetahuan pula sebuah kekuatan. Susan Sontag (dalam esai sohornya, On Plato's Cave) menggambarkan, bahwa fotografi menghasilkan tata bahasa baru bahkan yang paling penting adalah telah membentuk etika cara pandang baru. Kehadirannya di mana-mana (omnipresence) telah diserap dan mengendap pada benak manusia modern sebagai sebuah antologi citraan-citraan. Andri Malraux, sastrawan dan intelektual Perancis pernah mengatakan bahwa era fotografi dalam reproduksi mekanik telah menimbulkan khayalan-khayalan tanpa batas. Fotografi telah melebur dalam mental sebagai konstruksi pengalaman. Bila masyarakat ''primitif'' mengusir ''roh jahat'' (exorcism) dengan topeng-topeng, masyarakat borjuis punya cermin, maka manusia modern punya foto! Begitulah filsuf kontemporer seperti Jean Baudrillard menganalogikan. Artinya fotografi dalam budaya manusia modern seperti juga "jimat".
"Humankind lingers unregenerately in Plato’s cave, still reveling, its age-old habit, in mere images of the truth".
Menurut Sontag, kamera adalah alat yang lebih “mengerikan”. Sontag menganalogikan kamera dengan pistol. Bedanya, pistol membunuh, sedang kamera lakukan hal yang lebih “jahat” lagi. Kamera dewasanya ialah alat seorang pemangsa; bersifat “mengubah” subjek yang direkam menjadi sebuah objek yang bisa dimiliki. Seperti halnya pemburu yang berkeliaran di semak belukar menunggu mangsa dengan senapan Winchester-nya, fotografer adalah seorang pemangsa yang berkeliaran dengan Hasselblad-nya siap “menerkam” momen-momen yang dirasanya tepat dan menggiurkan. Selain alat pemangsa, Sontag juga menjelaskan kamera ialah alat yang paling otoriter.
***
Fotografi yang kita ambil hanya menyoalkan bagian-bagian yang kita inginkan, kepingan realita terisolasi yang terpilih untuk disimpan lalu dikenang. Seperti yang ditulis Sontag, Selain hanya untuk menyimpan, Sontag berhasil memprediksikan sekitar 40 tahun yang lalu, keadaan masyarakat kita yang kini sangat tergantung pada foto sebagai sebuah sertifikat kehadiran mereka pada suatu lokasi atau seatu pengalaman. Dengan ramainya media sosial dan meningkatnya keinginan masyarakat untuk berpergian, sebuah kamera kini hanyalah sebuah bungkusan untuk mengumpulkan foto dan terus mengumpulkan. Lalu, berkompetisi dengan orang lain, melihat siapa yang lebih banyak memiliki foto. Karena siapa yang lebih banyak memiliki foto, mereka dianggap lebih banyak memiliki pengalaman atau “hadir” pada suatu momen. Manusia pada dasarnya memang rakus dan kompetitif.

Komentar